Biasakan Membaca Buku Manual! – Motomaxx

Buku manual atau buku panduan tampaknya sepele tetapi penting untuk diketahui.

Sebagian besar pengguna kendaraan umumnya memiliki masalah dengan tunggangan mereka. Entah itu rusak, lampu mati, kendaraan tidak mau dipentaskan, indikator bermasalah hingga menyala, sehingga tidak ingin melengkapi aksesori seperti: radio, penghapus, lampu kabin, lampu sein, speedometer, dan sebagainya.

Biasanya ketika Anda mengalami masalah seperti ini, pengguna akan langsung panik. Ujung-ujungnya bingung tentang apa yang harus dilakukan. Terutama bagi pengguna yang tidak terbiasa dengan dunia teknik. Belum lagi kegelisahan tentang risiko aksi kriminal yang kerap menimpa pengguna kendaraan saat mengalami masalah.

Kebiasaan buruk pemilik kendaraan di Indonesia malas membaca buku manual (buku manual) yang diberikan oleh produsen kendaraan saat membeli kendaraan. Meski hanya dengan membaca setidaknya kita bisa mendapatkan berbagai informasi penting yang akan sangat berguna saat kendaraan berada di udara

Dengan membaca buku manual, kita akan mengetahui banyak hal, dari jenis pelumas apa yang digunakan, fungsi tombol, cara mengoperasikan fitur kendaraan, kapan mengganti oli dan komponen lainnya, posisi bukaan kap mesin, dan lokasi jack, alat dan segitiga pengaman, untuk berbagai hal yang tidak boleh dilakukan pada kendaraan.

Contoh kecil saja. Untuk pemilik kendaraan yang biasanya menggunakan layanan pengemudi, mereka pasti akan menemukan situasi di mana mereka harus mengendarai kendaraan mereka sendiri karena pengemudi kebetulan tidak dapat hadir. Ketika dia akan mengisi bahan bakar, dia bingung di mana lubang pengisian tangki berada, kiri atau kanan. Belum selesai masalah menambahkan masalah baru: Di mana tuas untuk membuka tutup tangki bahan bakar?

Dia sibuk mencari ketika dia berhenti di depan petugas pompa bahan bakar, sementara antriannya semakin panjang. Ini tentu akan membuang waktu dan membahayakan banyak orang. Belum lagi cemoohan dari orang-orang yang membuat kita malu, "Ooh mobilnya bagus, ternyata itu hanya sebuah tooh truk, buka tutupnya, hanya tidak tahu."

Masalah sepele

Kami melihat contoh lain. Seorang lelaki baru saja membeli sebuah SUV buatan Eropa baru dan ingin mengunjungi keluarganya di Jawa Tengah. Di sekitar Kebumen tiba-tiba SUVnya yang angkuh tidak mau dinyalakan kembali. Meskipun baterainya dalam kondisi sangat baik yang ditandai oleh cahaya terang dan bunyi klakson keras.

Karena panik dan sama sekali tidak ingin tahu tentang kendaraan itu, dia menelepon call center sambil marah karena dia kecewa mobilnya mogok. Terlebih lagi, merek Eropa tidak memiliki banyak cabang di Jawa Tengah. Dealer terdekat dengan lokasi hanya di Semarang.

Akhirnya, sambil menahan kesal, pria itu terpaksa menunggu bantuan, yang diperkirakan bisa tiba paling awal sekitar 4-5 jam. Setelah mobil servis datang lengkap dengan crane, peralatan, plus perangkat komputer diagnostik dan beberapa mekanik, ternyata masalahnya hanya satu: sekring mesin pecah.

Dia juga menghabiskan ratusan ribu rupiah hanya untuk urusan sepele. Memang tidak ada kewajiban membayar karena mobil masih dalam garansi penuh. Dana itu hanya untuk kompensasi untuk menebus rasa malu. Dia 'cukup tulus' memberikannya kepada mekanik resmi yang datang jauh-jauh ke lokasinya. Apa yang dia bayangkan pada saat itu adalah bagaimana jika orang yang datang adalah seseorang yang berpura-pura membantu dan kemudian memeras atau merampoknya.

Ini tentu tidak akan terjadi jika kita ingin menghabiskan sedikit waktu membaca buku manual untuk mencari tahu di mana sekring itu berada, dan memeriksanya. Memang sepele, tetapi akan sangat berarti ketika masalah benar-benar terjadi. (Noer)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *